Hai, semut apa kabar?
Disaat aku menulis, aku sering memperhatikan gerak-gerikmu yang ramah bersalaman. Kau tahu tidak, aku bahkan tersenyum hanya karena melihatmu berjalan menyusuri dinding kamar ini. Tapi seringkali aku marah jika kau berkumpul di makanan atau minumanku tanpa bilang-bilang.
Ini kopi hangat yang baru aku buat 5 menit lalu. Jika kau meminumnya kemungkinan kamu akan terpeleset kemudian mati tenggelam di dasar cangkir.
Boleh aku bercerita padamu? Tapi kau harus berjanji untuk setia mendengarkan aku atau setidaknya menemani aku menulis malam ini.
Ada hal yang sengaja aku tinggalkan, semacam beberapa rasa penasaran dengan salah satu mahkluk ciptaan Tuhan yang masih terus melintas di pikiran ini.
Tapi, ................................
Entahlah. Titik-titik yang seharusnya aku isi sendiri tak mampu aku jawab. Ya karena itu, sudah haknya kaum hawa mungkin yang menuntut kaum adam membuat peka se-peka-pekanya walaupun sudah dengan seribu jurus kode dilontarkan. hemmm..
Kenapa dunia ini rumit sekali, apa di dunia semut juga seperti itu? Banyak kisah yang ingin aku ceritakan. Tapi nanti saja, saat aku sujud menyimpulkan banyak doa. Hari ini terlampau banyak hal yang membuat aku pusing, tapi aku menikmatinya. Coba kau lihat, sampai sekarang aku baik-baik saja kan?
Aku suka menulis sebelum tidur. Menceritakan banyak hal pada dinding kamar, langit-langit, layar dan tuts keyboard serta masih banyak lagi.
Aku suka kesendirian. Aku tahu semut tak suka sendiri, kau banyak teman.
Iya kita berbeda.
sudah yah, aku ngantuk. Kamu pulang juga gih.
Kelak, hati-hati menuju sarang.
Wikipedia
Hasil penelusuran
Sabtu, 07 Juni 2014
Selasa, 15 April 2014
Aku Seharusnya Belajar Menjadi Ia
Itu daun kaktus, ia sabar dan kuat saat gersang, sederhana namun berduri, sulit untuk kau sentuh kecuali dengan hati-hati.
Aku seharusnya belajar menjadi ia,
Tuhan lebih pintar merangkai rencana dari pada kita,. Kita hanya disuruh untuk memilih dan pilihan kita pun tak selamanya tepat. Oleh karenanya Tuhan sering mematahkan pilihan kita untuk mengarahkan ke tempat yang lebih tepat. Namun prasangka buruk terlanjur menyalahkan Tuhan.
Oh itu, kalu itu bunga kamboja,
Ia tidak boleh terlalu banyak air karena batangnya nanti akan cepat busuk, manusia juga apabila sering mengeluarkan air mata akan terlihat lebih rapuh. Tapi batang kamboja itu lebih hebat, ia sanggup tumbuh menjadi batang baru yang lebih banyak jika kau potong bagian ujungnya. Aku sengaja mematahkan batangnya beberapa hari yang lalu, kini ia bertunas menjadi 3 dahan.
Aku seharusnya belajar menjadi ia,
Mungkin Tuhan sengaja mematahkan pilihan yang telah kita pilih untuk dapat menjadikanmu sesuatu yang baru, yang lebih kuat dan lebih indah dari sebelumnya.
Hidup jangan terlalu dibuat sedih, pandanglah keluar dan mulailah untuk membahagiakan dirimu dengan caramu sendiri. Bukankah senyum itu manis dan tertawa itu merdu? Lalu katakan bahwa hidup ini indah dan berbahagialah.
Itulah sedikit banyak tentang bunga. Kamu suka bunga apa?
Aku seharusnya belajar menjadi ia,
Tuhan lebih pintar merangkai rencana dari pada kita,. Kita hanya disuruh untuk memilih dan pilihan kita pun tak selamanya tepat. Oleh karenanya Tuhan sering mematahkan pilihan kita untuk mengarahkan ke tempat yang lebih tepat. Namun prasangka buruk terlanjur menyalahkan Tuhan.
Oh itu, kalu itu bunga kamboja,
Ia tidak boleh terlalu banyak air karena batangnya nanti akan cepat busuk, manusia juga apabila sering mengeluarkan air mata akan terlihat lebih rapuh. Tapi batang kamboja itu lebih hebat, ia sanggup tumbuh menjadi batang baru yang lebih banyak jika kau potong bagian ujungnya. Aku sengaja mematahkan batangnya beberapa hari yang lalu, kini ia bertunas menjadi 3 dahan.
Aku seharusnya belajar menjadi ia,
Mungkin Tuhan sengaja mematahkan pilihan yang telah kita pilih untuk dapat menjadikanmu sesuatu yang baru, yang lebih kuat dan lebih indah dari sebelumnya.
Hidup jangan terlalu dibuat sedih, pandanglah keluar dan mulailah untuk membahagiakan dirimu dengan caramu sendiri. Bukankah senyum itu manis dan tertawa itu merdu? Lalu katakan bahwa hidup ini indah dan berbahagialah.
Itulah sedikit banyak tentang bunga. Kamu suka bunga apa?
Jumat, 28 Maret 2014
SKRIPSI
Tawa bahagia, pusing, stress, semuanya ada di sini :D :) :( :'(
Menunduk berdoa sebelum memulai mengetik adalah ritual
Dana penelitian yang mengalir lancar adalah bisnis
Makan-makan jika hasil analisa data memuaskan adalah budaya
Coretan perhitungan, membaca teori dari berbagai buku refrensi setiap harinya adalah sejarah
Seorang Ibu yang merelakan anaknya tak pulang ke rumah berbulan-bulan demi mengambil data adalah cinta :')
Seorang mahasiswa yang rela mengurangi uang jajan untuk penelitian adalah seni
Lembaran berpuluh-puluh halaman dengan sampul abu-abu yang berisi ribuan kata demi tersusunya "SKRIPSI" adalah sastra
Kamis, 20 Maret 2014
Ketika Hidupmu Jatuh Terlalu Sakit, maka Duduklah Terlebih Dahulu
"Disaat kita jatuh dalam permasalahan hidup, maka segeralah berdiri"
Bukankah sudah seringkali kita membaca kutipan seperti di atas? Banyak orang lain yang ikut mengangguk dan mengiyakan. Dan mereka juga punya hak untuk mengungkapkan kesetujuan fikirannya.
Namun ketika saya membaca kalimat ini, entak kenapa ada sedikit hal yang mengganjal dan membuat saya kembali berpikir.
Karena kenyataannya, tidak semua orang yang ketika jatuh mampu untuk bisa dan langsung dapat berdiri. Karena jatuh juga mempunyai kategori. Ada yang terlalu sakit dan ada yang sakit sekali.
Ketika kita dihadapkan pada peristiwa hidup dengan keadaan jatuh yang sudah terlampau sakit, maka rasanya sulit sekali untuk bisa segera berdiri. Langkah yang lebih baik adalah, cobalah untuk duduk lebih dulu. Lihatlah sekelilingmu, kau tak perlu ragu untuk melihatnya, karena di sana terletak sebuah kunci untuk kau pergunakan sebagai alat membuka hal yang tidak kamu ketahui. Kelak kau akan belajar dan mengerti siapa saja ia yang hanya menertawakanmu dan siapa saja ia yang mengkhawatirkan keadaanmu. Lalu..??
Ketika kau sudah merasa lebih baik dan mulai paham bahwa sebuah kejatuhan hidup yang sakit sekali pun hadir pada kehidupanmu, ia tetap memberikan sebuah pembelajaran. Maka pada saat itu,, Mulailah berdiri pelan-pelan. Sampai kau mampu berdiri tegak kemudian berjalan seperti biasa.
Bukankah sudah seringkali kita membaca kutipan seperti di atas? Banyak orang lain yang ikut mengangguk dan mengiyakan. Dan mereka juga punya hak untuk mengungkapkan kesetujuan fikirannya.
Namun ketika saya membaca kalimat ini, entak kenapa ada sedikit hal yang mengganjal dan membuat saya kembali berpikir.
Karena kenyataannya, tidak semua orang yang ketika jatuh mampu untuk bisa dan langsung dapat berdiri. Karena jatuh juga mempunyai kategori. Ada yang terlalu sakit dan ada yang sakit sekali.
Ketika kita dihadapkan pada peristiwa hidup dengan keadaan jatuh yang sudah terlampau sakit, maka rasanya sulit sekali untuk bisa segera berdiri. Langkah yang lebih baik adalah, cobalah untuk duduk lebih dulu. Lihatlah sekelilingmu, kau tak perlu ragu untuk melihatnya, karena di sana terletak sebuah kunci untuk kau pergunakan sebagai alat membuka hal yang tidak kamu ketahui. Kelak kau akan belajar dan mengerti siapa saja ia yang hanya menertawakanmu dan siapa saja ia yang mengkhawatirkan keadaanmu. Lalu..??
Ketika kau sudah merasa lebih baik dan mulai paham bahwa sebuah kejatuhan hidup yang sakit sekali pun hadir pada kehidupanmu, ia tetap memberikan sebuah pembelajaran. Maka pada saat itu,, Mulailah berdiri pelan-pelan. Sampai kau mampu berdiri tegak kemudian berjalan seperti biasa.
Minggu, 16 Maret 2014
Ketika
Ketika jendela tak lagi punya kaca, isi luar jendela mampu mengistirahatkan pikiran yang mempunyai sekoper angan.
Dibalik pemandangan sudutnya, dibalik desah sapa angin yang bersembunyi, serta sinar matahari yang setiap hari meraba kulitmu.
Dan ketika semua benda mati itu kubayangkan menjadi hidup,
Apa yang harus diperbincangkan lagi pada matahari yang panas itu. Atau melihat kejahatan daun yang sengaja jatuh tanpa bilang. Atau kekonyolan otak kecil saya yang sedang berbicara sendiri.
Ketika jendela punya tangan hingga mampu membersihkan dirinya sendiri dari debu, mungkin rintik hujan yang jatuh akan mengetuk dan bilang permisi sebelum jatuh.
Dan ketika semua benda mati itu kubayangkan menjadi hidup, dunia pasti lebih ribut.
Maka hidup yang berjalan semestinya, akan sulit untuk berjalan yang seharusnya.
Maka biarkan apa-apa yang terjadi, menjadi apa yang akan kau alami nanti.
Iya, nanti. Disaat kau sudah mampu untuk mempelajari dan memperbaiki kata ketika untuk tidak kau ubah menjadi kata seandainya.
Dibalik pemandangan sudutnya, dibalik desah sapa angin yang bersembunyi, serta sinar matahari yang setiap hari meraba kulitmu.
Dan ketika semua benda mati itu kubayangkan menjadi hidup,
Apa yang harus diperbincangkan lagi pada matahari yang panas itu. Atau melihat kejahatan daun yang sengaja jatuh tanpa bilang. Atau kekonyolan otak kecil saya yang sedang berbicara sendiri.
Ketika jendela punya tangan hingga mampu membersihkan dirinya sendiri dari debu, mungkin rintik hujan yang jatuh akan mengetuk dan bilang permisi sebelum jatuh.
Dan ketika semua benda mati itu kubayangkan menjadi hidup, dunia pasti lebih ribut.
Maka hidup yang berjalan semestinya, akan sulit untuk berjalan yang seharusnya.
Maka biarkan apa-apa yang terjadi, menjadi apa yang akan kau alami nanti.
Iya, nanti. Disaat kau sudah mampu untuk mempelajari dan memperbaiki kata ketika untuk tidak kau ubah menjadi kata seandainya.
Sabtu, 15 Maret 2014
Ketika Wejangan Tuhan Mengajari Hati Untuk Peka
Skripsi. Ya, semua berawal mungkin dari sini. Ketika pikiran ini buntu untuk mengolah kata demi kata menjadi kalimat kemudian menjadi paragraf begitu seterusnya sampai tersusun mungkin sampai ribuan kata yang saya tulis pada sampul abu-abu ini.
Berawal dari situlah ketika pikiran butuh penyegaran sejenak, saya langsung luangkan waktu untuk menjamah blog ini kembali yang memang sedikit "terselingkuhi" dengan skripsi.
"Tidak ada ilmu yang lebih baik dari dirimu sendiri"
Ya, itu prinsip yang harus dipegang erat-erat.
Pada kesempatan ini entah kenapa saya ingin menuliskan sebuah pemahaman hidup dari sebuah novel yang pernah saya baca.
Disana diceritakan 2 anak kecil bermain catur di teras rumah. Ketika itu setelah mereka selesai bermain catur, Ibu dari Irfan (salah satu anak yang bermain catur) menghampiri irfan lalu berkata," kok tumben hari ini kalah main caturnya? Biasanya menang terus. Makanya lain kali belajar hati-hati, sebelum jalan dipikir dulu supaya gak kalah".
Lalu dia menimpali ibunya dengan jawaban yang sederhana,"tiap hari dia kalah terus mah. Kalau hari ini Irfan menangin lagi, mungkin dia besok gak bakalan mau main catur bareng-bareng lagi. Kalu tadi Irfan jalanin mentri, dia udah kena skak mat, dan irfan menang dari tadi. Tapi sengaja dikalahin. Ngalah itu bukan berarti gak menang mah".
Membaca penggalan cerita tersebut seperti wejangan Tuhan yang sedang menyentil-nyentil kuping saya ketika membacanya. Memang ini hanya sebatas dari tulisan, mungkin akan sedikit lebih teriris lagi ketika itu kita dengar sendiri dari kuping kita.
Dari penggalan cerita tersebut, banyak hal yang terjadi sebenarnya yang banyak kita ambil makna sebenarnya. Berawal dari hal sederhana yang sepele bahkan terlihat bodoh di mata kita. Karena apa yang kita pikirkan belum tentu sama denga apa yang orang lain pikirkan dan apa yang dilihat belum tentu sama dengan apa yang terlihat. Bahkan dari semut saja, kita dapat belajar bagaimana caranya bertahan untuk hidup.
Bahwa yang kalah, bukan berarti tidak menang. Tapi belajar memahami untuk lebih peduli dengan yang lain dan sabar menunggu untuk kemenangan berikutnya yang sempat tertunda.
Berawal dari situlah ketika pikiran butuh penyegaran sejenak, saya langsung luangkan waktu untuk menjamah blog ini kembali yang memang sedikit "terselingkuhi" dengan skripsi.
"Tidak ada ilmu yang lebih baik dari dirimu sendiri"
Ya, itu prinsip yang harus dipegang erat-erat.
Pada kesempatan ini entah kenapa saya ingin menuliskan sebuah pemahaman hidup dari sebuah novel yang pernah saya baca.
Disana diceritakan 2 anak kecil bermain catur di teras rumah. Ketika itu setelah mereka selesai bermain catur, Ibu dari Irfan (salah satu anak yang bermain catur) menghampiri irfan lalu berkata," kok tumben hari ini kalah main caturnya? Biasanya menang terus. Makanya lain kali belajar hati-hati, sebelum jalan dipikir dulu supaya gak kalah".
Lalu dia menimpali ibunya dengan jawaban yang sederhana,"tiap hari dia kalah terus mah. Kalau hari ini Irfan menangin lagi, mungkin dia besok gak bakalan mau main catur bareng-bareng lagi. Kalu tadi Irfan jalanin mentri, dia udah kena skak mat, dan irfan menang dari tadi. Tapi sengaja dikalahin. Ngalah itu bukan berarti gak menang mah".
Membaca penggalan cerita tersebut seperti wejangan Tuhan yang sedang menyentil-nyentil kuping saya ketika membacanya. Memang ini hanya sebatas dari tulisan, mungkin akan sedikit lebih teriris lagi ketika itu kita dengar sendiri dari kuping kita.
Dari penggalan cerita tersebut, banyak hal yang terjadi sebenarnya yang banyak kita ambil makna sebenarnya. Berawal dari hal sederhana yang sepele bahkan terlihat bodoh di mata kita. Karena apa yang kita pikirkan belum tentu sama denga apa yang orang lain pikirkan dan apa yang dilihat belum tentu sama dengan apa yang terlihat. Bahkan dari semut saja, kita dapat belajar bagaimana caranya bertahan untuk hidup.
Bahwa yang kalah, bukan berarti tidak menang. Tapi belajar memahami untuk lebih peduli dengan yang lain dan sabar menunggu untuk kemenangan berikutnya yang sempat tertunda.
Langganan:
Postingan (Atom)



