Fabiayyi aalaa irabbikuma tukadziban, yang artinya "Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan?" sebanyak 31 kali diulang. 31 kali juga kita diperingatkan melalui ayat ini. Tujuannya untuk mengingatkan manusia bahwa nikmat Allah itu luar biasa, tak sepatutnya kita mendustakan satupun nikmatnya.
Fabiayyi aalaa irabbikuma tukadziban,
Adalah ayat yang sederhana tapi sarat dengan makna tiap ayatnya. Yang mampu mengkerdilkan dari kesombongan dan keangkuhan diri.
Untuk lebih mengindahkannya, dengar dan resapi tilawah Surat Ar Rahman dari Mishary Rashid Al Afasy. Suaranya indah, usahakan sambil menyiapkan dan membaca terjemahannya juga yah :)
Allah, aku mencintaiMu, Engkau tahu itu,
Marhaban Yaa Ramadhan..
Wikipedia
Hasil penelusuran
Kamis, 26 Juni 2014
Jumat, 20 Juni 2014
Akar Langit
Jangan bangga akan kamu di puncak, berbanggalah ketika kamu meraih puncak itu. Anggaplah puncak itu sebuah bonus dalam perjalananmu meraihnya.
Jangan bunuh sesuatu kecuali waktu. Jangan ambil sesuatu kecuali gambar dan jangan tinggalkan sesuatu kecuali jejak.
Jangan membakar apapun kecuali semangat.
Bawa turun sampahmu, atau telan!
Pendaki sejati bukanlah orang yang mampu menaklukkan puncak-puncak tertinggi. Tapi ia yang mampu menaklukkan dirinya sendiri. Karena selalu ada sesuatu yang baru yang dapat dieksplorasi di alam, ia akan membiarkanmu menemukan dan menikmatinya, tapi jangan lupa untuk berterimakasih pada kecantikkannya.
Angin, hujan, kabut dan badai adalah bagian dari DNA pendaki gunung. Berjalan di atas awan adalah pengalaman yang luar biasa. Kamu tidak percaya? Jadi, kamu harus mulai mendaki.
Jangan bunuh sesuatu kecuali waktu. Jangan ambil sesuatu kecuali gambar dan jangan tinggalkan sesuatu kecuali jejak.
Jangan membakar apapun kecuali semangat.
Bawa turun sampahmu, atau telan!
Pendaki sejati bukanlah orang yang mampu menaklukkan puncak-puncak tertinggi. Tapi ia yang mampu menaklukkan dirinya sendiri. Karena selalu ada sesuatu yang baru yang dapat dieksplorasi di alam, ia akan membiarkanmu menemukan dan menikmatinya, tapi jangan lupa untuk berterimakasih pada kecantikkannya.
Angin, hujan, kabut dan badai adalah bagian dari DNA pendaki gunung. Berjalan di atas awan adalah pengalaman yang luar biasa. Kamu tidak percaya? Jadi, kamu harus mulai mendaki.
Sabtu, 07 Juni 2014
Aku, Semut, dan Dia
Hai, semut apa kabar?
Disaat aku menulis, aku sering memperhatikan gerak-gerikmu yang ramah bersalaman. Kau tahu tidak, aku bahkan tersenyum hanya karena melihatmu berjalan menyusuri dinding kamar ini. Tapi seringkali aku marah jika kau berkumpul di makanan atau minumanku tanpa bilang-bilang.
Ini kopi hangat yang baru aku buat 5 menit lalu. Jika kau meminumnya kemungkinan kamu akan terpeleset kemudian mati tenggelam di dasar cangkir.
Boleh aku bercerita padamu? Tapi kau harus berjanji untuk setia mendengarkan aku atau setidaknya menemani aku menulis malam ini.
Ada hal yang sengaja aku tinggalkan, semacam beberapa rasa penasaran dengan salah satu mahkluk ciptaan Tuhan yang masih terus melintas di pikiran ini.
Tapi, ................................
Entahlah. Titik-titik yang seharusnya aku isi sendiri tak mampu aku jawab. Ya karena itu, sudah haknya kaum hawa mungkin yang menuntut kaum adam membuat peka se-peka-pekanya walaupun sudah dengan seribu jurus kode dilontarkan. hemmm..
Kenapa dunia ini rumit sekali, apa di dunia semut juga seperti itu? Banyak kisah yang ingin aku ceritakan. Tapi nanti saja, saat aku sujud menyimpulkan banyak doa. Hari ini terlampau banyak hal yang membuat aku pusing, tapi aku menikmatinya. Coba kau lihat, sampai sekarang aku baik-baik saja kan?
Aku suka menulis sebelum tidur. Menceritakan banyak hal pada dinding kamar, langit-langit, layar dan tuts keyboard serta masih banyak lagi.
Aku suka kesendirian. Aku tahu semut tak suka sendiri, kau banyak teman.
Iya kita berbeda.
sudah yah, aku ngantuk. Kamu pulang juga gih.
Kelak, hati-hati menuju sarang.
Disaat aku menulis, aku sering memperhatikan gerak-gerikmu yang ramah bersalaman. Kau tahu tidak, aku bahkan tersenyum hanya karena melihatmu berjalan menyusuri dinding kamar ini. Tapi seringkali aku marah jika kau berkumpul di makanan atau minumanku tanpa bilang-bilang.
Ini kopi hangat yang baru aku buat 5 menit lalu. Jika kau meminumnya kemungkinan kamu akan terpeleset kemudian mati tenggelam di dasar cangkir.
Boleh aku bercerita padamu? Tapi kau harus berjanji untuk setia mendengarkan aku atau setidaknya menemani aku menulis malam ini.
Ada hal yang sengaja aku tinggalkan, semacam beberapa rasa penasaran dengan salah satu mahkluk ciptaan Tuhan yang masih terus melintas di pikiran ini.
Tapi, ................................
Entahlah. Titik-titik yang seharusnya aku isi sendiri tak mampu aku jawab. Ya karena itu, sudah haknya kaum hawa mungkin yang menuntut kaum adam membuat peka se-peka-pekanya walaupun sudah dengan seribu jurus kode dilontarkan. hemmm..
Kenapa dunia ini rumit sekali, apa di dunia semut juga seperti itu? Banyak kisah yang ingin aku ceritakan. Tapi nanti saja, saat aku sujud menyimpulkan banyak doa. Hari ini terlampau banyak hal yang membuat aku pusing, tapi aku menikmatinya. Coba kau lihat, sampai sekarang aku baik-baik saja kan?
Aku suka menulis sebelum tidur. Menceritakan banyak hal pada dinding kamar, langit-langit, layar dan tuts keyboard serta masih banyak lagi.
Aku suka kesendirian. Aku tahu semut tak suka sendiri, kau banyak teman.
Iya kita berbeda.
sudah yah, aku ngantuk. Kamu pulang juga gih.
Kelak, hati-hati menuju sarang.
Langganan:
Postingan (Atom)









