Wikipedia

Hasil penelusuran

Jumat, 28 Maret 2014

SKRIPSI

Tawa bahagia, pusing, stress, semuanya ada di sini :D :) :( :'(

Menunduk berdoa sebelum memulai mengetik adalah ritual
Dana penelitian yang mengalir lancar adalah bisnis

Makan-makan jika hasil analisa data memuaskan adalah budaya
Coretan perhitungan, membaca teori dari berbagai buku refrensi setiap harinya adalah sejarah

Seorang Ibu yang merelakan anaknya tak pulang ke rumah berbulan-bulan demi mengambil data adalah cinta :')

Seorang mahasiswa yang rela mengurangi uang jajan untuk penelitian adalah seni

Lembaran berpuluh-puluh halaman dengan sampul abu-abu yang berisi ribuan kata demi tersusunya "SKRIPSI" adalah sastra

Nikmati prosesnya, kelak pasti akan merindukan masa-masa ini ^_^


3 bendel sebelum perang (baca: Pendadaran)


Melahirkanmu begitu penuh perjuangan. Dan kini aku rindu masa itu :'(

Kamis, 20 Maret 2014

Ketika Hidupmu Jatuh Terlalu Sakit, maka Duduklah Terlebih Dahulu

"Disaat kita jatuh dalam permasalahan hidup, maka segeralah berdiri"

Bukankah sudah seringkali kita membaca kutipan seperti di atas? Banyak orang lain yang ikut mengangguk dan mengiyakan. Dan mereka juga punya hak untuk mengungkapkan kesetujuan fikirannya.

Namun ketika saya membaca kalimat ini, entak kenapa ada sedikit hal yang mengganjal dan membuat saya kembali berpikir.

Karena kenyataannya, tidak semua orang yang ketika jatuh mampu untuk bisa dan langsung dapat berdiri. Karena jatuh juga mempunyai kategori. Ada yang terlalu sakit dan ada yang sakit sekali.

Ketika kita dihadapkan pada peristiwa hidup dengan keadaan jatuh yang sudah terlampau sakit, maka rasanya sulit sekali untuk bisa segera berdiri. Langkah yang lebih baik adalah, cobalah untuk duduk lebih dulu. Lihatlah sekelilingmu, kau tak perlu ragu untuk melihatnya, karena di sana terletak sebuah kunci untuk kau pergunakan sebagai alat membuka hal yang tidak kamu ketahui. Kelak kau akan belajar dan mengerti siapa saja ia yang hanya menertawakanmu dan siapa saja ia yang mengkhawatirkan keadaanmu. Lalu..??

Ketika kau sudah merasa lebih baik dan mulai paham bahwa sebuah kejatuhan hidup yang sakit sekali pun hadir pada kehidupanmu, ia tetap memberikan sebuah pembelajaran. Maka pada saat itu,, Mulailah berdiri pelan-pelan. Sampai kau mampu berdiri tegak kemudian berjalan seperti biasa.

Minggu, 16 Maret 2014

Ketika

Ketika jendela tak lagi punya kaca, isi luar jendela mampu mengistirahatkan pikiran yang mempunyai sekoper angan.

Dibalik pemandangan sudutnya, dibalik desah sapa angin yang bersembunyi, serta sinar matahari yang setiap hari meraba kulitmu.

Dan ketika semua benda mati itu kubayangkan menjadi hidup, 

Apa yang harus diperbincangkan lagi pada matahari yang panas itu. Atau melihat kejahatan daun yang sengaja jatuh tanpa bilang. Atau kekonyolan otak kecil saya yang sedang berbicara sendiri.

Ketika jendela punya tangan hingga mampu membersihkan dirinya sendiri dari debu, mungkin rintik hujan yang jatuh akan mengetuk dan bilang permisi sebelum jatuh.

Dan ketika semua benda mati itu kubayangkan menjadi hidup, dunia pasti lebih ribut.

Maka hidup yang berjalan semestinya, akan sulit untuk berjalan yang seharusnya.

Maka biarkan apa-apa yang terjadi, menjadi apa yang akan kau alami nanti.

Iya, nanti. Disaat kau sudah mampu untuk mempelajari dan memperbaiki kata ketika untuk tidak kau ubah menjadi kata seandainya.

Sabtu, 15 Maret 2014

Ketika Wejangan Tuhan Mengajari Hati Untuk Peka

Skripsi. Ya, semua berawal mungkin dari sini. Ketika pikiran ini buntu untuk mengolah kata demi kata menjadi kalimat kemudian menjadi paragraf begitu seterusnya sampai tersusun mungkin sampai ribuan kata yang saya tulis pada sampul abu-abu ini.

Berawal dari situlah ketika pikiran butuh penyegaran sejenak, saya langsung luangkan waktu untuk menjamah blog ini kembali yang memang sedikit "terselingkuhi" dengan skripsi.

"Tidak ada ilmu yang lebih baik dari dirimu sendiri"
Ya, itu prinsip yang harus dipegang erat-erat.

Pada kesempatan ini entah kenapa saya ingin menuliskan sebuah pemahaman hidup dari sebuah novel yang pernah saya baca.

Disana diceritakan 2 anak kecil bermain catur di teras rumah. Ketika itu setelah mereka selesai bermain catur, Ibu dari Irfan (salah satu anak yang bermain catur) menghampiri irfan lalu berkata," kok tumben hari ini kalah main caturnya? Biasanya menang terus. Makanya lain kali belajar hati-hati, sebelum jalan dipikir dulu supaya gak kalah".

Lalu dia menimpali ibunya dengan jawaban yang sederhana,"tiap hari dia kalah terus mah. Kalau hari ini Irfan menangin lagi, mungkin dia besok gak bakalan mau main catur bareng-bareng lagi. Kalu tadi Irfan jalanin mentri, dia udah kena skak mat, dan irfan menang dari tadi. Tapi sengaja dikalahin. Ngalah itu bukan berarti gak menang mah".

Membaca penggalan cerita tersebut seperti wejangan Tuhan yang sedang menyentil-nyentil kuping saya ketika membacanya. Memang ini hanya sebatas dari tulisan, mungkin akan sedikit lebih teriris lagi ketika itu kita dengar sendiri dari kuping kita.

Dari penggalan cerita tersebut, banyak hal yang terjadi sebenarnya yang banyak kita ambil makna sebenarnya. Berawal dari hal sederhana yang sepele bahkan terlihat bodoh di mata kita. Karena apa yang kita pikirkan belum tentu sama denga apa yang orang lain pikirkan dan apa yang dilihat belum tentu sama dengan apa yang terlihat. Bahkan dari semut saja, kita dapat belajar bagaimana caranya bertahan untuk hidup.

Bahwa yang kalah, bukan berarti tidak menang. Tapi belajar memahami untuk lebih peduli dengan yang lain dan sabar menunggu untuk kemenangan berikutnya yang sempat tertunda.